Sejarah Popcorn Dan Bioskop

Sejarah Popcorn Dan Bioskop Popcorn telah menjadi camilan yang identik dengan agenda menonton film di bioskop sejak beberapa dekade silam, tetapi kebanyakan orang tidak tahu alasan di baliknya.

Dikutip dari situs Feast Media pada Selasa(30/3/2019), kita sejatinya dapat melacak kapan keterkaitan popcorn dan bioskop berawal dengan melihat sejarah produksi sinematik lebih dari seabad lalu.

Namun, jauh sebelumnya, popcorn diketahui telah menjadi camilan bagi pengunjung yang datang menonton sirkus. Ini merupakan taktik baru kala itu untuk mempertahankan mood penonton yang datang.

Tetapi, lebih dari itu, pemilik sirkus menyadari bahwa mereka dapat menggandakan keuntungan mereka jika menjual tiket penonton dan makanan ringan untuk pertunjukan, yang, secara alami, menyebabkan peningkatan laba.

Dengan memanfaatkan gelombang popularitas popcorn, pemilik sirkus membentuk preseden penting, yakni makanan ringan dan pertunjukan. Inilah yang menjadi cikal baka mengapa popcorn identik dengan bioskop.

Camilan Rakyat Jelata

Industri bioskop mulai menunjukkan eksistensinya ketika para pemilik teater mulai mendiversifikasikan usahanya, dan tidak lagi hanya terpaku pada pertunjukkan drama di atas panggung.

Para pemilik teater juga ingin memastikan bahwa produksi sinematik sama bagusnya dengan teater. Selama bertahun-tahun, teater memiliki karpet, panggung, dan tirai, di mana membuatnya menjadi tempat yang berkelas.

Baru pada 1927, ketika film panjang –meski masih bisu– mulai diproduksi, bioskop pun mulai meniru desain teater, yakni dihadirkan dalam bentuk auditorium.

Hingga momen ini, popcorn belum dianggap sebagai camilan yang identik dengan bioskop. Alasannya adalah karena camilan jagung ini kerap diasosiasikan dengan hiburan rakyat jelata.

Seperti yang sempat disinggung di atas, popcorn lebih sering dijajakan sebagai camilan untuk penonton sirkus dan berbagai pertunjukan aneh lainnya.

Teater-teater Eropa yang berkelas tidak pernah menyajikan makanan rakyat biasa, dan karenanya, bioskop juga mengikuti aturan serupa.

Pengaruh Depresi Besar

Ketika Amerika Serikat memasuki masa Depresi Besar yang menghancurkan sendi-sendi ekonominya, bioskop sulit menyasar target konsumen yang lebih luas.

Bahkan, ketika rencana menjadikan bioskop lebih terjangkau pun gagal dilaksanakan karena biaya hidup semakin tinggi, sehingga industri hiburan menjadi “barang sangat mewah”.

Tapi, kebutuhan ekonomi memaksa pengusaha bioskop untuk menurunkan standar kemewahannya, guna menarik pelanggan dan membuat roda bisnis terus berjalan.

Konsep bioskop pun diubah menjadi lebih sederhana, namun tetap mempertahankan konsep dasar auditorium. Pengurangan biaya perawatan berarti juga bisa menurunkan harga tiketnya, yang berimbang pada meningkatnya daya tawar terhadap konsumen.

Dan karena popcorn identik dengan camilan untuk hiburan rakyat, maka dengan ragu-ragu, pengusaha bioskop mulai memasukkannya sebagai elemen pendukung.

Beberapa khawatir jika popcorn popcorn –entah bagaimana– akan mengganggu suara film. Tetapi, kemudian menemukan fakta bahwa, dengan menaikkan volume film, maka suaranya dapat melampaui kunyahan si camilan jagung.

Dengan harga sepuluh sen, popcorn menjadi barang mewah yang terjangkau oleh masyarakat luas yang dilanda Depresi Besar. Tren itu terus berkembang hingga saat ini, dan bahkan sulit dilepaskan dari industri bioskop.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *